Tujuan hidup. Ahh .. apa sih tujuan hidupmu? Pertanyaan itu yang selalu saya tanyakan kepada diri sendiri. Sukses dalam karir pekerjaan, hidup mapan berkecukupan dan tentu saja … ehemm .. membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Dan untuk mewujudkan semua itu saya harus berusaha semampunya, sekuat tenaga yang saya miliki. Yeaahh! Salam super!!!
Tidak mudah. Memang tidak mudah. Siapa juga yang bilang mudah?
Di tengah tengah perjuangan mewujudkan tujuan hidup itu banyak dijumpai rintangan yang menyebabkan saya harus tersungkur dalam rasa kecewa, marah, jengkel, dendam … putus asa dan sedih … tak jarang hati saya menangis dan diam diam menitikkan air mata.
Bangkit! Tentu saja saya harus bangkit dan itu yang selalu saya lakukan jika sedang ‘terjatuh’ … Saya ini laki laki tangguh yang berani di adu dengan siapa saja
Tapi akhir akhir ini saya sering menjumpai diri dalam keadaan ‘kosong’, sebuah perasaan yang dengan kejamnya membunuh seketika semangat yang saya butuhkan untuk berjuang mewujudkan tujuan hidup … tiba tiba saja saya bertanya … “Untuk apa semua ini?” … tiba tiba saya merasa capek untuk melakukan apa saja … tiba tiba saja saya merasakan semuanya menjadi hambar … tiba tiba saja hidup ini tidak ada ‘rasanya’ … GAWAT!!!
Ada yang salah? Sepertinya memang ada yang salah, tapi apa ya? Sepertinya ada yang kurang, tapi apa ya? Heizzhh .. tapi apa ya … tapi apa ya … cari dong!!!
Iyaa!!! Ini juga lagi dicari!!!
——
“ …. Niatkan semua untuk menggapai ridho ALLAH mas, bukan hal hal yang sifatnya dunia, insya ALLAH tenang deh
…” sebuah komentar yang tiba tiba muncul di blog ini. Siapa sangka di dalam komentar ini tersirat kata kunci yang selama ini saya cari. – Terima kasih, Ade! Saya mendengar dan saya (sekuat tenaga berusaha) taat
Saya telah LUPA. Kesombongan telah menutupi kesadaran dan mengisi mata hati saya dengan indah kemilau dunia yang penuh tipu daya. Saya lupa dengan nasehat guru ngaji yang dulu telah mengajarkan bahwa dunia ini cuma tempat ‘mampir’ … saya lupa bahwa … Tujuan akhir sejati setiap mahkluk adalah untuk kembali kepada TUHAN nya.
Mbak Novia Kolopaking dan suaminya kang Emha Ainun Nadjib bernyanyi “ … semakin erat aku dekap kehidupan, semakin sempurna kekalahan … “ kembali terngiang dalam telinga, bagaimana mungkin semua itu bisa terlupakan? Semua yang saya perjuangkan … semuanya akan saya tinggalkan ketika ‘yang telah ditentukan’ tiba waktunya ….
Alangkah zhalim-nya saya kepada diri sendiri, alangkah zhalim-nya saya kepada ALLAH .. selama ini betapa saya dengan bodoh telah menipu-NYA habis habisan. Dasar manusia tidak tahu diri!!!
“ …. Inni wajjahtu wajhiya lil-ladzi … Aku hadapkan wajahku kepada TUHAN Yang Menciptakan langit dan bumi …. Shalatku, ibdahku, hidup dan matiku hanya untuk TUHAN yang Menciptakan alam semesta … oh alangkah BOHONG nya karena selama ini sesungguhnya aku telah hadapkan wajah kepada tipu daya dunia … Iyya kana’ budu wa iyya kanasta’in … Hanya kepada-MU lah aku menyembah dan hanya kepada-MU lah aku memohon pertolongan … oh alangkah DUSTA nya selama ini … ikrar dan pernyataan kepada ALLAH yang hanya berbalut ‘ritual jungkir balik’ dan tidak berbekas sama sekali dalam tingkah laku perbuatan kehidupan sehari hari … “
Tiba tiba … Saya ingin pulang ….. Sayyidul Istighfar …
” …. Rabbana zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khasyiriin. Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta khalaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’udzu bika min syarri ma shana’tu abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bidzambi faghfirli fa-innahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta.
TUHAN kami, kami telah berlaku zhalim kepada diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat pada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. Allahumma, Engkau adalah Tuhanku, yang tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Engkau yang telah menciptakan diriku. Aku adalah hamba-Mu, dan aku berada dalam perintah dan perjanjian-Mu, yang dengan segala kemampuanku perintah-Mu aku laksanakan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala hal buruk yang telah aku perbuat terhadap-Mu. Engkau telah mencurahkan nikmat-Mu kepadaku, sementara aku senantiasa berbuat dosa. Maka ampunilah dosa-dosaku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau …. ”
—–
Detik demi detik berdetak sangat lamban
Menyiksaku dalam penantian
Detik demi detik berdetak semakin lamban
Menderaku dalam pengharapan
Semakin erat aku dekap kehidupan
Semakin sempurna kekalahan
Dan ketika senja telah berangkat gelap
Duka dan sesal datang terlambat
Betapa panjang jalan yang harus kulalui
Untuk sampai diharibaanMu
Betapa jauh jejak langkahku tersesat
Sebelum akhirnya aku bertobat
Anda diharuskan membayar lebih untuk akses Internet jika menekan tombol ‘Play’ pada tautan YouTube di atas. Mohon Maaf! Peringatan ini harus diberikan jika anda menggunakan akses internet yang berbayar berdasarkan beban pemanggilan data. (GPRS/CDMA/3G)

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Last 50 Posts
Back
Back
Void
Life « Default
Earth
Wind
Water
Fire
Light 
betul, didin…
kalau kita merasa di dunia ini sia-sia, seharusnya kita ingat bahwa tujuan hidup kita bukan di dunia ini, tapi kita bertanggung jawab atas hidup kita kelak di alam baka
kalau sudah begitu seharusnya kita tidak melakukan hal-hal bodoh di dunia ini.
semoga jalanmu selalu dicerahkan oleh-Nya.
btw tulisanmu akhir-akhir ini sudah lebih menyentuh sendi-sendi kehidupan ya hehehe… baguslah… jadi tambah keren maksudnya hehehehe
@fekhi, ahh .. si Femi bisa aja … jadi malu!