Belajar Leadership Dari Muhammad Rasulullah:
Menjelang Perang Badar. Sebuah perang yang menentukan tetap tegaknya kalimat tauhid di muka bumi, sebuah perang antara sejumlah kecil pasukan muslim dari kota Madinah melawan sejumlah besar pasukan penyembah berhala dari kota Mekkah!
Muhammad Rasulullah memutuskan agar pasukan Muslim gabungan antara kaum Anshar dan Muhajirin berhenti di sebuah mata air, seorang sahabat Anshar, Hubab Bin Mundhir maju dan bertanya dengan ‘nada’ agak sungkan “Wahai Rasulullah, apa alasan tuan berhenti di tempat ini? Kalau memang ini adalah perintah dari ALLAH, kami tidak akan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini hanya sekedar pendapat tuan sendiri dan hanya sebagai sebuah taktik perang?”. Jika dilihat dari pertanyaannya, terlihat jelas Hubab Bin Mundhir ‘merasa’ tidak setuju dengan keputusan Rasulullaah untuk berhenti di tempat itu. Hanya saja, karena manusia yang ‘diprotes’ ini adalah manusia pilihan utusan ALLAH, tentu sahabat Hubab harus ‘agak berhati hati’ karena siapa tahu keputusan untuk berhenti itu adalah perintah langsung dari ALLAH
Muhammad Rasulullaah menjawab “ Ini adalah pendapat saya sendiri dan hanya sekedar taktik perang”
Mendengar jawaban Rasulullah, sahabat Hubab ‘semakin berani’ melanjutkan perkataannya, “Jika begitu, tidak tepat kita berhenti di sini. Kita harus menuju ke mata air yang terdekat dengan pasukan mereka. Sumur dan mata air yang ada di belakang kita timbun, lalu kita membuat kolam dan kita isi sepenuhnya dengan air. Barulah kita berperang menghadapi mereka. Kita mendapatkan air minum, sedangkan mereka tidak!”
Menyadari bahwa saran dari sahabat Hubab ini adalah sebuah saran yang tepat. Rasulullah pun memerintahkan pasukan muslim untuk terus bergerak mengikuti saran dari sahabat Hubab.
Siapakah Muhammad? Dia adalah Rasulullah, manusia yang dipilih langsung oleh ALLAH untuk membawa pesan-NYA kepada seluruh manusia. Siapakah Hubab Bin Mundhir yang berani beraninya mempertanyakan keputusan Rasulullah? Dia hanyalah seorang pengikut, yang kebetulan mempunyai pengetahuan ‘lebih’ dibandingkan dengan Rasulullah dalam hal taktik perang. Muhammad Rasullullah menyadari hal itu, dan beliau menerima saran dari sahabat Hubab.
Keteladanan dari sikap kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasullullah adalah mau mendengarkan pendapat orang lain. Hubab Bin Mundhir mungkin pada saat itu belum begitu terkenal, tidak sekaliber pendekar pendekar Muhajirin seperti Umar bin Khattab, Hamzah bin Abdul Munthalib dan Ali Bin Abu Thalib, tapi dia adalah seseorang yang mengenal seluk beluk daerah Badar, sedangkan Rasulullah yang berasal dari kaum Muhajirin tidak begitu mengenal daerah tersebut.
—
Saat ini banyak dari kita yang diberi oleh ALLAH sebuah kesempatan untuk menjadi pemimpin, tapi seringkali posisi puncak tersebut ‘membutakan’ logika atas keputusan keputusan yang diambil.
Kita sering beranggapan, jika telah menjadi pemimpin berarti kita telah menguasai orang lain. Mau tidak mau orang lain harus tunduk dan patuh terhadap semua keputusan yang telah kita tetapkan. Adalah sangat ‘tidak etis’ jika ada bawahan yang mempertanyakan keputusan kita.
“Sit Down, Listen and Do What I’ve Told You …” Teriak pongah kita.
“Peraturan nomor satu, pemimpin selalu benar. Peraturan nomor dua, jika pemimpin berbuat salah lihatlah kembali ke peraturan nomor satu” Dengan semena mena kita membuat peraturan
“ Turuti semua perintah saya, jika ingin tetap bekerja … Kamu tidak akan mendapatan promosi jabatan jika berani memprotes saya … “ Dengan zhalimnya kita mengancam!
Dan seterusnya dan seterusnya.
Dan karena tidak mau dan gengsi untuk mendengarkan pendapat orang lain (apalagi jika orang itu adalah hanya seorang bawahan), seringkali keputusan yang kita ambil malah membawa ‘bencana’ bagi banyak orang.
“Shalawat dan Salaam untukmu wahai Muhammad Rasulullaah, kami merindukanmu”

Categories
Tag Cloud
Blog RSS
Comments RSS
Last 50 Posts
Back
Back
Void
Life « Default
Earth
Wind
Water
Fire
Light 